Sosialisasikan Standar Layanan Sensor, LSF Kunjungi Perusahaan Film
Jakarta, 26 Februari 2026 – SELAMA 2025, Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI) menerbitkan sebanyak 545 Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) untuk film layar lebar, yang didominasi film impor sebanyak 275 judul berbanding film nasional sebanyak 270 judul.
Materi sensor dari film-film nasional tersebut berasal dari 167 rumah produksi, yang belum tentu semua memahami standar pelayanan penyensoran film dan iklan film. “Kami melakukan transformasi dalam pelayanan, di mana secara online diintegrasikan dengan perizinan di Kementerian Kebudayaan agar tidak ada dobel pengisian formulir. Sehingga mampu menghemat cost pelayanan,” ungkap Ketua LSF Naswardi.
Untuk itu, LSF merasa berkepentingan untuk menyosialisasikan hal tersebut ke berbagai perusahaan film. Salah satunya ke PT Kharisma Starvision Plus, Jakarta, Kamis (26/2/2026), di mana terungkap bahwa perusahaan film tersebut menjadi rumah produksi dengan jumlah film nasional terbanyak kedua dalam layanan penyensoran 2025.
Sehingga, dalam kegiatan sosialisasi atas perubahan standar pelayanan penyensoran film di perusahaan tersebut, LSF memberikan piagam penghargaan. Pemilik Kharisma Starvision Plus, Chand Parwez Servia merasa bangga dan berterima kasih kepada LSF atas pencapaian ini.
Dia pun mengungkapkan bahwa setelah 30 tahun berkarya, Starvision telah memproduksi 187 film, sekaligus memberikan sedikit bocoran atas apa yang akan dilakukan pada 2026. “Di tahun ini, kami memiliki enam sutradara perempuan yang akan bekerja sama dengan kami,” ungkapnya. (Nuz)