LSF-Kemendikdasmen Bangun Ekosistem Film untuk Pelajar
Jakarta, 30 April 2026 -- SEPANJANG 2025, Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI) telah menerbitkan sebanyak 41.140 Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) untuk film-film karya siswa SMK dari berbagai daerah, utamanya di Jawa Tengah, seperti Kabupaten Kudus, Kabupaten Batang, dan kota/kabupaten lain. Untuk itu, perlu ada sinergi antara dunia perfilman dan dunia pendidikan, khususnya dalam hal literasi film, sensor mandiri, serta apresiasi karya film dan animasi siswa SMK.
“Karya adik-adik dari SMK ini cukup baik dan bagus. Harapan kami, LSF akan terus memotivasi dan mendorong agar karya-karya siswa yang berkaitan dengan film dan animasi ini diterbitkan surat tanda lulus sensornya agar ada perluasan apresiasi penonton, khususnya untuk penayangan di bioskop dan OTT (over the top),” papar Ketua LSF Naswardi saat bersama sejumlah anggota LSF lain menggelar audiensi dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti di kantornya, Kamis (30/4/2026).
LSF juga memaparkan program LSF Goes to School, sebuah inisiatif literasi yang membawa para insan perfilman, termasuk aktor, aktris, dan pelaku rumah produksi langsung ke sekolah-sekolah guna memasyarakatkan klasifikasi usia penonton dan budaya menonton sesuai usia. Selain menyampaikan bahwa pada 2025, bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta melakukan penelitian di enam kota besar dengan melibatkan guru, siswa, dan penonton film sebagai responden.
Salah satu rekomendasinya adalah perlunya proses pembelajaran literasi menonton masuk ke dalam kurikulum sekolah, baik melalui mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia serta Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), maupun kegiatan ekstrakurikuler. Saat ini pun, LSF tengah bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menyusun cetak biru model literasi film yang dapat diadopsi oleh guru di sekolah.
Abdul Mu’ti menyambut baik gagasan kolaborasi antara LSF dan Kemendikdasmen seraya mengapresiasi kualitas karya film siswa SMK yang menurutnya sudah mencapai standar internasional. Termasuk karya siswa SMK Kudus yang menarik minat produser film asing. “Kalau film-film ini bisa dikerjasamakan menjadi bagian dari materi penguatan karakter dan apresiasi seni, itu bagus juga. Mekanismenya nanti kita cari bersama,” kata dia.
Selain juga mendorong produksi film pendek berdurasi sekitar lima hingga tujuh menit, agar lebih mudah dikonsumsi dan disebarluaskan. Film-film itu nantinya dapat ditayangkan di situs resmi Kemendikdasmen maupun platform Rumah Pendidikan sebagai ruang partisipasi masyarakat dalam mengisi konten pembelajaran.
Abdul Mu’ti juga mengingatkan pentingnya konten yang menggambarkan nilai persaudaraan, persahabatan lintas latar belakang, dan nilai-nilai kebangsaan yang disampaikan secara ringan dan alami. Selain mengusulkan agar LSF dapat memberikan penilaian terhadap karya film yang dilombakan di lingkungan SMK, sehingga ada apresiasi yang lebih terstruktur bagi para siswa. (Rosalinda/Nuz)