LSF- RI Terima Kunjungan Mahasiswa UIN Sunan Kudus
Jakarta, 5 November 2026 –LEMBAGA Sensor Film Republik Indonesia (LSF- RI) menerima kunjungan studi media dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus Jawa Tengah, Kamis (5/11/2026). Kegiatan bertujuan memberikan pemahaman mengenai tugas dan fungsi LSF, proses penyensoran film, klasifikasi usia penonton, serta pentingnya Budaya Sensor Mandiri.
Kunjungan disambut Ketua LSF- RI, Naswardi, Ketua Subkomisi Hukum dan Advokasi, Saptari Novia Stri, Ketua Subkomisi Desa Sensor Mandiri dan Komunitas, Hairus Salim, serta Ketua Subkomisi Teknologi Penyensoran. Satya Pratama. Mereka menyampaikan materi tentang sejarah dan landasan hukum penyensoran, pengenalan aplikasi e-SiAS, serta klasifikasi usia menonton film. Ketiga materi tersebut sangat penting diketahui, 60 mahasiswa yang hadir dalam kunjungan tersebut.
Ketua Subkomisi Desa Sensor Mandiri dan Komunitas LSF-RI, Hairus Salim, menjelaskan bahwa sosialisasi Budaya Sensor Mandiri dilakukan kepada berbagai lapisan masyarakat, termasuk lingkungan kampus, sekolah, dan komunitas. Menurutnya, edukasi tersebut penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilih tontonan sesuai klasifikasi usia. “Semoga dengan kunjungan ini, mereka secara pribadi sadar bahwa menonton film itu ada aturannya, aturan sesuai usia,” ujar Hairus.
Sementara itu, dosen KPI UIN Sunan Kudus, Faza Yudiansyah, menyampaikan, kunjungan merupakan bentuk implementasi pembelajaran yang telah diperoleh mahasiswa di bangku perkuliahan. Menurutnya, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman langsung melalui diskusi bersama para ahli di bidang perfilman. “Mereka diharapkan tidak hanya mendapatkan pengalaman secara teoritis saja, tetapi juga pengalaman di lapangan. Pengalaman tersebut dapat memotivasi mahasiswa untuk menghasilkan karya film yang tidak hanya mengutamakan kualitas visual, tetapi juga tetap menjaga nilai-nilai moral dan agama,” papar Faza.
Mahasiswa KPI UIN Sunan Kudus, Attaliyu Naufal, mengapresiasi materi yang disampaikan karena memberikan wawasan baru mengenai proses penyensoran hingga penentuan klasifikasi usia film. Ia menilai klasifikasi usia memiliki peran penting dalam melindungi masyarakat dari tontonan yang tidak sesuai dengan usianya. “Jadi tahu bagaimana proses penyensoran film dari akar hingga terbitnya sebuah film tersebut. Sangat-sangat informatif,” ujar Attaliyu . (Ikhda Nisrina Nabila/Tin)