LSF Bersama  Kemendikdasmen Ajak Guru Budayakan Sensor Mandiri
  • Berita
  • 04/11/2026
  • 37

LSF Bersama Kemendikdasmen Ajak Guru Budayakan Sensor Mandiri

Jakarta, 04 November 2026 – LEMBAGA Sensor Film Republik Indonesia (LSF-RI) bersama Direktorat Pendidikan Profesi Guru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Dompet Dhuafa menggelar Nonton Bareng dan Diskusi Film Na Willa, sekaligus  Sosialisasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM), di Jakarta. Rabu (04/11/2026).


Ketua LSF-RI, Naswardi menyatakan, anak dari balita hingga remaja kini tumbuh bersama gawai, media sosial, dan platform streaming, sehingga selain membaca, menulis, dan berhitung, mereka perlu belajar menonton dengan memilih dan memaknai tontonan sesuai usia.


Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti  menyampaikan bahwa novel yang difilmkan dapat menjadi sumber inspirasi, tetapi tidak semua tontonan mendidik. Ia mengajak anak menanyakan isi film kepada orang tua dan menerapkan sensor mandiri.


Ketua Komisi III LSF-RI, Kuat Prihatin, menegaskan bahwa sosialisasi untuk membudayakan sensor mandiri menargetkan anak-anak sekolah, anak-anak kita yang ingin kita lindungi, dengan melibatkan guru. Kuat Prihatin juga memperkenalkan empat klasifikasi usia penonton, yakni Semua Umur (SU), Remaja 13 Tahun (R13+), Dewasa 17 Tahun (D17+), dan Dewasa 21 Tahun (D21+) “Kami  berharap pesan sensor mandiri dapat masuk ke kurikulum pendidikan nasional,” ujar Kuat Prihatin.


Sementara itu, penulis Na Willa, Reda Gaudiamo, menuturkan bahwa karyanya lahir dari keresahan atas perlakuan orang dewasa terhadap anak, termasuk pengalaman anaknya yang dijauhi teman karena perbedaan keyakinan. Guru mendorong sikap mendengar dan belajar bersama anak untuk membantu mereka berkembang, termasuk bagi anak yang bakatnya belum tampak. “Terkait sensor mandiri mandiri  sebenarnya bukan hanya untuk anak-anak saja, tapi untuk orang dewasanya, untuk gurunya, untuk siapapun,” ujar Reda Gaudiamo. (Vellyandra Dwihana Adrianto/Tin)

Mama Culla