LSF Gelar  GNBSM ke  Perguruan Muhammadiyah Cipondoh
  • Berita
  • 06/11/2026
  • 35

LSF Gelar GNBSM ke Perguruan Muhammadiyah Cipondoh

Tangerang, 6 November 2026. UNTUK meningkatkan kesadaran generasi muda dalam memilah dan memilih tontonan sesuai usia, Lembaga Sensor Film Republik Indonesia  (LSF-RI) menggelar kegiatan Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM) di Perguruan Muhammadiyah Cipondoh, Tangerang, Jumat (06/11/2026).  Kegiatan  diikuti siswa SMP, SMA, dan SMK ini, menyampaikan  edukasi mengenai budaya sensor mandiri serta literasi untuk menjadi filmmaker yang sehat melalui promosi film Fatima.


Ketua LSF-RI, Naswardi  menjelaskan, upaya menjaga relevansi  GNBSM bagi generasi muda dilakukan melalui pendekatan langsung ke berbagai lingkungan pendidikan dan komunitas. “Jadi kita terus berupaya datang ke kampus, datang ke sekolah, datang ke komunitas dalam rangka memajukan perfilman nasional dan memastikan masyarakat memiliki literasi yang baik dalam menonton yakni budaya sensor mandiri, menonton sesuai usia,” ujar Naswardi.


Ketua Subkomisi Sosialisasi, Titin Setiawati, berharap Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM) dapat menjangkau lebih banyak masyarakat setiap tahunnya. Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan budaya sensor mandiri semakin meningkat sehingga mampu memilah dan memilih tontonan secara bijak sesuai usia.


Produser film Fatima, Ferly, menjelaskan, menghadirkan film bermakna bagi masyarakat perlu dimulai sejak tahap awal pengembangan cerita. Proses tersebut dilakukan melalui pengumpulan data, survei, hingga riset cerita. “Cara kita membuat suatu karya tidak hanya komersif, tapi memiliki makna dan isi. Tentunya itu dimulai dari awal pengumpulan data, dari surveinya kita, dari riset ceritanya kita,” ujar Ferly.


Sementara itu, Dita, selaku guru Perguruan Muhammadiyah Cipondoh, menyampaikan bahwa sekolah memiliki peran dalam memberikan edukasi kepada siswa mengenai klasifikasi usia film agar mereka dapat memilih tontonan yang sesuai dengan usianya. “Pertama adalah edukasi dulu, memberitahu kepada siswa bahwa edukasi film yang disebutkan ada empat, SU, 13+, 17+ dan 21+ dimana disitu ada tahapan-tahapannya yang mereka boleh sesuai usia mereka,” ujar Dita. (Adiba Syaidatun Nisa/Tin)

Mama Culla