Film Indonesia Tembus Pasar Global, APROFI Ingatkan Ini
  • Berita
  • 11/03/2026
  • 29

Film Indonesia Tembus Pasar Global, APROFI Ingatkan Ini

Jakarta, 11 Maret 2026 – DALAM beberapa tahun terakhir, perkembangan industri film nasional menunjukkan tren positif. Salah satunya, karena dalam dua tahun terakhir, jumlah penikmat film Indonesia lewat layar lebar ada di atas 80 juta penonton.


“Ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap film Indonesia terus meningkat,” ungkap Ketua Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) Edwin Nazir saat kegiatan Diskusi Pakar bertajuk “Ekosistem Perfilman Indonesia: Tantangan dan Harapan” yang digelar Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI) di Jakarta, Rabu (11/3/2026).


Dia juga menyoroti keberhasilan film Indonesia menembus pasar global melalui platform digital. Bahkan memuncaki peringkat pertama film non-Bahasa Inggris global dan masuk Top 10 di 75 negara. “Sebagian pelaku industri berpandangan bahwa pengawasan konten film di platform digital sebaiknya tetap berada dalam kewenangan LSF. Karakteristik platform digital berbeda dengan televisi, karena penonton secara aktif memilih konten yang ingin mereka tonton,” papar Edwin.


Namun, dia mengingatkan ada sejumlah syarat agar film Indonesia dapat diterima secara luas di tingkat internasional. “Film yang kuat adalah film yang memiliki konteks lokal, tetapi mengangkat tema universal sehingga dapat dipahami oleh penonton dari berbagai negara,” ungkapnya.


Sementara Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan (PPPK) Kementerian Kebudayaan Ahmad Mahendra, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ekosistem perfilman nasiona karena penguatan ekosistem perfilman tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.


“Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga negara, dan para pelaku industri agar perfilman Indonesia mampu berkembang di tengah perubahan teknologi dan pola distribusi film,” bebernya.


Kegiatan yang dipandu Ketua Subkomisi Penyensoran Hadi Artomo ini rutin digelar sebagai bagian untuk berbagi ilmu di kalangan anggota, tenaga sensor, dan jajaran sekretariat LSF. Sehingga dapat semakin memahami dinamika industri film serta mampu menjalankan fungsi sensor secara lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan ekosistem perfilman. (Rosalinda/Nuz)