LSF Kembali Gelar Literasi dan Nobar Film Nasional
  • Berita
  • 21/07/2026
  • 24

LSF Kembali Gelar Literasi dan Nobar Film Nasional

Jakarta, 21 Juli 2026 – Untuk memperkuat Budaya Sensor Mandiri, Lembaga Sensor Film (LSF) kembali menggelar kegiatan Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM) yang dirangkaikan dengan nonton bareng film nasional  Jangan Buang Ibu dan Takkan Kubiarkan Kau Menangis di salah satu bioskop di Depok, Jawa Barat, Selasa (21/7). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya budaya sensor mandiri sekaligus memperkuat literasi perfilman di era digital.


Kegiatan berlangsung secara paralel di dua studio dengan menghadirkan narasumber dari LSF, akademisi, organisasi perfilman, serta insan perfilman Indonesia. Ketua LSF, Naswardi menyampaikan materi mengenai budaya sensor mandiri, sementara Agung Saputra  dari LEO Pictures dan Ferly Halim  dari Langit Pictures Indonesia berbagi pengalaman mengenai proses kreatif di balik film nasional yang ditayangkan dalam kegiatan nonton bersama.


Naswardi menegaskan pentingnya budaya sensor mandiri di era digital, seiring tingginya akses masyarakat terhadap konten internet yang belum seluruhnya melalui proses sensor atau filtrasi. Kegiatan turut dihadiri  Wakil Walikota Depok, Chandra Rahmansyah,

“Saya mengapresiasi penyelenggaraan GNBSM, kegiatan ini  sebagai langkah memperkuat literasi masyarakat melalui film,” kata Chandra dalam sambutannya.


Ferly Halim, sutradara film “Takkan Kubiarkan Kau Menangis” menilai bahwa penerapan klasifikasi usia oleh LSF memberikan manfaat bagi pelaku industri perfilman.  "Film saat ini sudah bukan lagi hanya hiburan, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan pesan. Dengan adanya sensor film, kami terbantu untuk menentukan siapa penonton yang tepat bagi film kami," ujar Ferly. Ia menambahkan, film “Takkan Kubiarkan Kau Menangis memperoleh klasifikasi usia 13+ agar pesan yang disampaikan dapat diterima secara tepat oleh penonton sesuai usia.


 Melalui kegiatan ini, LSF berharap budaya sensor mandiri dapat menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat dalam memilih tontonan. Dengan begitu, masyarakat dapat menikmati film secara lebih bijak dan bertanggung jawab sesuai klasifikasi usia. (Michelle Pangaribuan/Tin)