Rayakan Hari Film Nasional, LSF Gelar Nobar “Darah dan Doa”
  • Berita
  • 02/04/2026
  • 16

Rayakan Hari Film Nasional, LSF Gelar Nobar “Darah dan Doa”

Jakarta, 1 April 2026 -- DENGAN menggunakan kereta rel listrik Moda Raya Terpadu (MRT), sebanyak 17 orang anggota Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI) berangkat dari kantor yang berada di Kawasan Jalan Sudirman menuju ke   Grand Indonesia di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (1/4/2026).


Sebelum kemudian menggelar kegiatan “LSF Nonton Film Indonesia 2026” di bioskop Starium CGV bersama 438 peserta yang berasal dari sejumlah kampus di Jabodetabek, komunitas, dan masyarakat umum yang mendaftar lewat akun Instagram lsf_ri. 


Para peserta memang diimbau untuk menggunakan kendaraan umum, sebagai bagian dari langkah penghematan di tengah krisis energi yang tengah melanda dunia saat ini. Menyusul perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah memasuki pekan kelima.


Kegiatan yang dibuka Menteri Kebudayaan Fadli Zon ini menjadi rangkaian dari Hari Film Nasional (HFN) 2026 yang jatuh setiap 30 Maret, setelah dicanangkan Presiden Ketiga RI BJ Habibie lewat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 25 Tahun 1999. Di mana pada tanggal tersebut 76 tahun yang lalu dimulai syuting film Darah dan Doa yang menjadi tonggak sejarah lahirnya perfilman Indonesia, sehingga para peserta diajak menonton bersama film besutan Usmar Ismail yang merupakan Bapak Perfilman Indonesia tersebut.


Dalam sambutannya, Fadli menekankan potensi besar film Indonesia dan relevansinya sebagai kekuatan budaya bangsa. "Batu bara, nikel, minyak akan habis. Tapi budaya tidak akan habis selama manusianya ada. Ke depan kita berharap ekonomi budaya, industri budaya akan maju dan perfilman kita alhamdulillah ekosistemnya relatif bagus dibanding negara-negara lain," ungkapnya.


Sementara Ketua LSF Naswardi menyebut kegiatan itu menjadi apresiasi atas karya monumental perfilman nasional. "Kita pada pagi hari ini akan mempertemukan antara masa lalu sebagai tonggak sejarah perfilman nasional Indonesia dengan masa era keemasan, era prestasi, dan era perfilman saat ini yang sangat kita banggakan." paparnya.


Dalam kegiatan itu pun LSF memberikan piagam penghargaan kepada keluarga sang sutradara sebagai bentuk apresiasi atas film Darah dan Doa sebagai Film Nasional Pertama, sekaligus menetapkan film ini lulus sensor dengan penggolongan usia 17 tahun ke atas.


Kegiatan ini juga menghadirkan diskusi yang melibatkan sutradara dan produser terkemuka Joko Anwar dan Ketua Yayasan Pusat Perfilman Usmar Ismail, Sonny Pudjisasono. (Rosalinda/Nuz)